CERDAS DALAM MENYAMPAIKAN DAKWAH (Kisah)

dari buku “Biarkan Dakwah Bermetamorfosa“, oleh Andree(Departemen Hubungan Internasional Pengurus Pusat KAMMI 2009).

Alkisah, seorang ustadz mudah lulusan perguruan tinggi Islam dikirim kesebuah desa pelosok. konon di desa ini masyarakatnya masih mempraktekkan sinkretisme antara ajaran Islam dan kepercayaan terhadap arwah nenek moyang. jadi kadang-kadang sholat, terkadang klenik. sekali waktu puasa, sekali waktu bikin sesajen (rasanya g hanya cuma di pelosok yg begini, d kota juga masih banyak). kebetulan kedatangan ustadz muda ini bertepatan menjelang perayaan besar tradisi nenek moyang penduduk setempat. pada hari pemujaan ini biasanya mereka meletakkan sesajen sambil berdo’a dipimpin seorang ‘pemuka agama’ di depan sebuah pohon besar yang umurnya mencapai tiga digit alias ratusan tahun. Pohon yang dianggap keramat, tempat bersemayamnya arwah nenek moyang mereka. Selakuorang alim di desa tersebut, sang ustadzpun diminta memimpin do’a pada hari pemujaan itu. Timbullah kecamuk dalam pikiran ustadz.

Kalau diterima jelas syirik, dan ia sebagai orang yang dibesarkan dalam pendidikan agama yang baik amat sangat tahu konsekuensi sebuah kesyirikan. Namun jika ditolak, masyarakat akan membenci beliau, menganggap sombong, sesat, dan lainnya. Di kemudian hari, pasti dakwah yang menjadi misi utamanya di desa itu tidak diterima. Bahkan jika ia salah bersikap mungkin saja kejadiannya lebih buruk, warga bisa jadi melakukan kekerasan atau pengusiran, bahkan pembunuhan. Memang sih, kemungkinan itu mati syahid, tapi apa tidak ada jalan yanglebih mudah dan menguntungkan?

Sebagai orang yang cukup ilmu dan pengalaman, beliau mengambil jalan yang menurut saya amat brilian. Ia menerima ajakan itu. Pada hari H, beliau datang dengan style meyakinkan. Berjubah, bersorban. Namun sesampainya dilokasi, ia tidak langsung berdoa. Ia malah membuat suatu ma’lumat yang agak ganjil. “Bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudari yang saya cintai. Agar lebih terjaga kesakralan  acara kita, ijinkan saya bersemedi terlebih dahulu sebentar dibalik pohon ini.” Warga manggut-manggut dan manut saja. Beliau kemudian duduk bersila sekitar sepuluh menit di balik pohon. Selama itu, suasana hening. Warga semakin yakin bahwa ustadz baru ini sakti. Tiba-tiba dia bangkit dengan suara lantang berteriak, “Dengar semuanya! Saya mendapat wangsit dari yang punya pohon. Ia menyuruh kita menebang pohon ini”. Warga yang hadir kaget, namun belum berani protes. “Kalau tidak seluruh desa akan terkena sial”, sambung sang ustadz. Salah seorang bertanya ragu-ragu bercampur takut, “Masa begitu Pak Ustadz?”. “Iya, kita disuruh menebang pohon ini dan membuatnya menjadi papan, lalu dibuatkan mushalla. Lantas penduduk di kampung  ini selama empat puluh hari wajib shalat lima waktu berjamaah dimushalla itu. Terserah bapak-bapak dan ibu-ibu saja, kalau saya memilih untuk patuh. Biar tidak kuwalat…”. Mendengar kata pamungkas ‘kuwalat’ itu, tanpa perlu dikomando lagi warga pun segera mengemasi barang sesajen dan melaksanakan perintah sang ustadz.

Coba lihat kata-kata yang bergaris miring. Sakral dimaksudkan ustadz tersebut kesucian, suci dari syirik maksudnya. Wangsit itu ia analogikan sebagai ilham, ide-ide yang diberikan Allah SWT. dalam lintasan pikirannya.yang punya pohon maksudnya Allah, karena hakekatnya semua yang dilangit dan di bumi hanyalah milik Allah. Begitu pula kata-kata sial dan kuwalat berarti dosa dan maksiat yang dalam keyakinan kita memang mengundang petaka dan musibah.

Sungguh indah cara bertuturnya, sungguh cerdas.empat puluh hari shalat berjamaah pernah diidentifikasi Rasulullah SAW sebagai tanda-tanda bersihnya seseorang dari kemunafikan, mungkin inilah harapan sang ustadz pada komunitas barunya. Diakhir cerita, mushalla baruitu berkembang menjadi pusat kegiatan warga desa, berangsur-angsur lewat bimbingan sang ustadz yang dikasihi Allah ini, mereka mendapatkan pemahaman yang benar dalam beragama. Subhanallah.

  1. #1 by roni on March 28, 2012 - 2:55 am

    Subhanallah …. kira2 apa bisa diterapkan di semua pelosok indonesia ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: